Sunday, August 17, 2008

Libido memble, jangan diem aje!

 
Libido memble, jangan diem aje!

Bak fluktuasi nilai tukar dolar terhadap rupiah, turun naiknya libido kini kerap dianggap hal biasa. Saking biasanya, banyak suami santai saja, meski dalam jangka waktu tertentu, birahinya off. "Entar juga on lagi," timpal mereka. Mestinya, sama dengan kurs rupiah, anjloknya libido pantang dibiarkan berlarut-larut.

Peran libido dalam siklus aktivitas seksual, sama seperti (maaf, lagi-lagi) peran mata uang dalam negara, memang teramat vital. Tanpa duit, tak akan ada transaksi, apa pun bentuknya. Sedangkan tanpa libido atau gairah seks, tak akan ada hubungan seksual, apa pun adanya. Maklum, adanya gairah merupakan tahap pertama dari total empat tahap aktivitas seksual. Tahap selanjutnya: ereksi, ejakulasi, dan orgasme.

Nah, kalau start-nya saja sudah memble, siapa bisa menjamin langkah selanjutnya bakal sukses? Alih-alih memuaskan istri, ereksi saja barangkali hanya terjadi dalam sekian detik.

"Waspada sejak dini, karena sekecil apa pun gangguan terhadap aktivitas seksual, sudah masuk kategori impotensi," sebut dr. Ferryal Loetan, ASC & T, Sp.RM, MKes-MMR, konsultan dan spesialis rehabilitasi seks RS Persahabatan, Jakarta Timur.

Naik turunnya libido dipercaya berhubungan erat dengan kondisi badan. Seseorang yang sangat kelelahan setelah bekerja keras seharian, misalnya, gairah seksualnya bisa saja padam seketika. Dalam kondisi seperti itu, jangankan melakukan hubungan seks, memikirkannya saja sudah bikin capai. Begitu juga jika kuota tidur 6 - 8 jam sehari dilanggar, risikonya badan tak lagi bugar, libido pun hisa anjiok.

Pemicu turunnya gairah juga bisa datang dari kebiasaan makan yang tidak sesuai dengan aktivitas yang dilakukan. Akibatnya, asupan yang masuk ke dalam tubuh menjadi timpang, tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Akibatnya, badan menjadi loyo dan kurang tenaga. Pola makan seperti ini jadi makin parah jika diiringi gaya hidup tertentu yang tidak sehat, seperti terlalu banyak merokok, minum minuman keras, atau mengonsumsi narkoba.

Faktor lain yang berpotensi menurunkan libido adalah stres, baik yang datang lantaran beban hidup maupun tekanan pekerjaan. Termasuk dalam hal ini, munculnya kekhawatiran tertentu yang sebenarnya tak beralasan. Semisal kekhawatiran tidak bisa memuaskan pasangan, khawatir tertular penyakit kelamin, dan ketakutan lain yang bisa menyebabkan hilangnya minat dan gairah melakukan hubungan intim.

Terakhir, libido juga bisa pergi lantaran kelainan seksual. Hal ini berhubungan dengan proses psikologis dalam otak. Karena satu dan lain hal, seseorang menganggap gambar wanita bugil, misalnya, bukanlah sesuatu yang menggairahkan dan memancing libido. Sebaliknya, (maaf) mengintip orang mandi yang tentu saja butub perjuangan dan berisiko tinggi, justru terasa lebih menantang.

Ihwal kelainan seperti ini, perlu ahli dan terapi khusus untuk menyembuhkannya. Pada dasarnya, kecuali kelainan seksual yang butuh penanganan khusus, gangguan fisik dan psikis yang disebut di atas lazimnya bersifat sementara. Begitu kelelahan mulai reda, jadwal tidur lebih teratur, penyebab stres dan segala ketakutan hilang, gairah bisa kembali terdongkrak. Masalahnya, tak banyak pria yang tahu, turunnya libido sesaat itu sebenarnya termasuk gejala impotensi stadium ringan.

Makin sering berulang, makin besar kemungkinan gejala ringan itu naik ke stadium yang lebih berat. Apalagi jika berlangsung secara permanen dalam jangka waktu tertentu, mulai berhari-hari, minggu-minggu, hingga berbulan. Menurut Loetan, tak jaminan faktor-faktor penurun libido itu hanya menyerang orang berumur.

"Normalnya, libido tidak pernah turun. Yang namanya pertambahan usia, menopause, atau andropause tidak otomatis menurunkan gairah," tegas pria berkacamata ini.

"Banyak orang berusia lanjut, tapi gairahnya masih tinggi. Masalahnya, fisik mereka kadang kurang menunjang, sehingga tak bisa ereksi. Itulah yang banyak orang bilang, nafsu besar tenaga kurang," imbuh Loetan.

Sebaliknya, tingginya tingkat stres di kota-kota besar serta merebaknya gaya hidup tak sehat membuat banyak pula pria usia 30-an tahun mengalami penurunan gairah. Ujung-ujungnya sama dengan si lanjut usia, gagal ereksi. Jadi, lupakan soal usia ketika bicara tentang libido.

Turunnya libido mengenal beberapa macam tingkatan. Pertama, kategori ringan, seperti disebut di muka, biasanya karena gangguan fisik dan psikis ringan. Seperti kelelahan, stres ringan, atau kurang tidur. Setelah gangguan itu hilang, gairah kembali normal.

Stadium kedua, kategori menengah. Pada tahap ini, turunnya libido lebih parah. Penderita sampai harus "dipaksa", baik dengan obat maupun alat agar gairahnya muncul, sehingga bisa ereksi.

Terakhir, stadium ketiga alias berat. Pada tahap ini, ada penderita yang masih dapat diobati (baca: bisa ereksi kembali) dengan terapi dan meminum obat tertentu. Tapi ada juga yang harus pasrah menerima nasib.

Pasien yang susah diobati biasanya jika pembuluh darah sekitar organ vitalnya sudah pecah. Turunnya libido pun akhirnya menjadi gangguan ereksi permanen. "Untuk mencegah kebablasan seperti itu, begitu merasakan adanya gangguan, sebaiknya penderita segera memeriksakan diri ke ahlinya," saran dr. Loetan.

Di klinik terapi disfungsi seksual, ada empat tahap pengobatan yang lazim dilakukan, tentu saja sesuai kadar gangguan libido pasien.

Tahap pertama, seperti mirip konsultasi pada umumnya, pasien didiagnosis penyakitnya. Upaya penyembuhan dengan bantuan perangkat audio visual, seperti rekaman suara orang mendesah atau menampilkan gambar bugil sudah dilakukan di sini.

"Ada bagian yang dijadikan pekerjaan rumah, harus ‘dikerjakan’ bersama istri. Nonton blue film, misalnya," sebut Loetan.

Jika libido tak juga bangkit, konsultasi plus obat-obatan menjadi senjata pada pengobatan tahap kedua. Selain "ngobrol-ngobrol" dengan dokter, pasien diharuskan minum obat tertentu yang diresepkan. Jika pasien masih juga tak kunjung membaik, tahap ketiga, berupa terapi aktif (penggunaan suntikan, bantuan alat-alat dan sejenisnya) telah menunggu.

Belakangan, seiring makin majunya teknologi penyembuhan (baik lewat alat maupun obat), tahap ketiga ini menjadi tahap pamungkas.

"Sejak tahun 2000, tahap yang sebelumnya sering dilakukan untuk pasien disfungsi seksual berat, yaitu penanaman implan di organ seksual lewat operasi, sudah sangat jarang dilaksanakan," aku Loetan. Di samping lantaran makin majunya teknologi pengobatan jalur non-operasi, barangkali juga karena risikonya tak sebanding dengan kenikmatan yang hendak diraih. Belum lagi ongkosnya yang pasti selangit. Loetan sangat tidak menganjurkan pasien mencoba-coba sendiri model-model pengobatan tersebut di rumah. "Terapi audio visual pun tidak sembarangan, ada aturannya. Tak sesederhana seperti yang dibayangkan awam," jelasnya.

Apalagi penggunaan obat-obatan pendongkrak gairah penggunaannya harus tepat. Logikanya, obat-obat itu dibuat untuk orang sakit. Jadi, kalau dikonsumsi orang sehat atau yang penyakitnya belum jelas, pasti ada dampaknya." tambah Loetan.

Sebaliknya. dia menganjurkan hidup sehat (makan gizi seimbang, istirahat cukup, jauhi stres) dan berolahraga teratur agar libido tetap oke. Survei University of California, AS menunjukkan olahraga dapat meningkatkan gairah seksual.

Survei itu melibatkan puluhan pria berusia rata-rata 48 tahun, yang diberi latihan aerobik satu jam per hari. Setelah sembilan bulan, mereka melaporkan adanya peningkatan frekuensi hubungan seks dan orgasme yang cukup tinggi.

"Jenis olahraganya terserah," beber Loetan. Namun Indra, seorang instruktur yang berkantor di bilangan Kebonjeruk, JakartaBarat, mengungkapkan, jenis olahraga yang membentuk dan melatih otot serta aerobik dipercaya mempunyai nilai lebih untuk meningkatkan stamina dan kualitas hubungan seks.

Otot yang mesti paling sering dilatih adalah otot sekitar perut, punggung bagian bawah, dan pantat. Intinya, bentuk otot dan stamina prima bisa membuat pria lebih percaya diri, yang ujung-ujungnya mempengaruhi libido. Tetapi, apa cuma kaum Adam yang punya masalah dengan soal libido? Kayaknya kaum Hawa kok anteng-anteng saja?

"Siapa bilang?" bantah Loetan.

"Perempuan juga punya masalah libido. Cuma, dalam konteks hubungan seksual, perempuan ‘kan pasif. Jadi, kalaupun ada masalah, tidak akan terlalu kelihatan. Bahkan, bisa saja yang bersangkutan tidak menyadarinya. Beda dengan laki-laki yang dituntut lebih aktif dan bekerja keras," sambung Loetan. Makanya, kalan libido suami memble, istri juga yang kena getahnya.
 
Sumber: SuaraMerdeka

No comments:

Post a Comment